02 June 2012

Saiyyidah Nafisah Radiyallahu Anhu

Makam Sayyidah Nafisah Radiyallahu anhu di Mesir




بســــم الله الرحمان الرحيم
Kisah yang bakal dicoret ini merupakan kisah waliyullah wanita yang merupakan cicit Rasulullah saw.Semoga kisah beliau ini memberi suntikan semangat untuk kita berjalan menuju-Nya khususnya untuk sekelian wanita di luar sana.Insya Allah Amen.

Saiyyidah Nafisah Radiyallahu anhu merupakan putri Hasan al-Anwar bin Zaid bin Hasan bin Ali dan Sayyidah Fathimah az-Zahra', putri Rasululullah Saw. Sayyidah Nafisah r.a dilahirkan di Mekah al-Mukarramah, 11 Rabiul awal 145 H. Pada tahun 150 H, Hasan telah dilantik sebagai Gabenor Madinah dan ia membawa Sayyidah Nafisah r.a yang baru berusia 5 tahun ke Madinah. Di sana Sayyidah Nafisah r.a menghafal Al-Qur'an, mempelajari tafsirnya dan senantiasa menziarahi makam datuknya, Rasulullah Saw. 
 
Sayyidah Nafisah r.a terkenal dengan watak zuhudnya, beliau berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk bertahajjud dan beribadah kepada Allah SWT. Sayyidah Nafisah r.a mulai umur enam tahun selalu menunaikan salat fardu dengan teratur bersama kedua orang tuanya di Masjid Nabawi. Setelah meningkat dewasa,Sayyidah Nafisah r.a telah menikahi sepupunya yang bernama Ishaq al-Mu'tamin. Pernikahan itu berlangsung pada tanggal 5 Rajab 161 H sewaktu umur beliau mencecah 16 tahun. Hasil dari perkahwinan,beliau r.a telah dikurniakan seorang putra bernama al-Qasim dan seorang putri bernama Ummu Kultsum. 

Kehebatan ibadah Sayyidah Nafisah r.a tidak asing lagi dikalangan umat islam. Beliau r.a akan membaca al qur'an setiap malam sebanyak 15 juzu' dan pada malam berikutnya beliau akan mengkhatamkan al-qur'an .Beliau r.a juga telah menunaikan ibadah haji sebanyak 30 kali, sebagian besar ia lakukan dengan berjalan kaki. Hal tersebut dilakukan karena meneladani datuknya, Imam Husain yang pernah mengatakan, "Sesungguhnya aku malu kepada Tuhanku jika aku menjumpai-Nya di rumah-Nya dengan tidak berjalan kaki." 

Hijrah ke Mesir

Sayyidah Nafisah r.a telah berhijrah  ke Mesir ketika usianya 48 tahun. Beliau r.a tiba di Mesir pada hari Sabtu, 26 Ramadan 193 H. Sewaktu orang-orang Mesir mengetahui berita kedatangan beliau, mereka pun berangkat untuk menyambutnya di kota al-Arisy, lalu bersama-sama dengannya memasuki Mesir. 

Di bumi Mesir,Sayyidah Nafisah r.a telah dibantu oleh seorang pedagang besar Mesir yang bernama Jamaluddin 'Abdullah al Jashshash, di rumah ini Sayyidah Nafisah tinggal selama beberapa bulan. Penduduk Mesir dari berbagai pelosok negeri datang ke tempatnya untuk mengunjungi dan mengambil barokah darinya. Sayyidah Nafisah r.a khuatir hal itu akan mengganggu pemilik rumah. Beliau pun meminta izin untuk pindah ke rumah yang lain. la kemudian memilih sebuah rumah yang khusus untuknya di sebuah kampung di belakang Masjid Syajarah ad-Durr di jalan al-Khalifah. Kampung itu sekarang dikenal dengan nama al-Hasaniyyah.  

Penduduk Mesir yang telah mengetahui rumah baru yang ditempati oleh Sayyidah Nafisah r.a, segera mendatanginya. Sayyida Nafisah r.a merasa dengan banyaknya orang yang mengunjunginya, benar-benar menyulitkannya untuk beribadah. Beliau berpikir untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke Madinah. Orang-orang mengetahui rencana Sayyidah Nafisah r.a untuk meninggalkan Mesir. Mereka segera pergi ke penguasa Mesir, as-Sirri bin al-Hakam, dan memintanya agar meminta Sayyidah Nafisah r.a untuk tetap tinggal di Mesir. As-Sirri bin al-Hakam kemudian mendatangi Sayyidah Nafisah. 

Kepada as-Sirri, Sayyidah Nafisah berkata, Dulu, saya memang ingin tinggal di tempat kalian, tetapi aku ini seorang wanita yang lemah. Orang-orang yang mengunjungiku sangat banyak, sehingga menyulitkanku untuk melaksanakan wirid dan mengumpulkan bekal untuk akhiratku. Lagi pula, rumah ini sempit untuk orang sebanyak itu. Selain itu, aku sangat rindu untuk pergi ke raudhah datukku, Rasulullah Saw."  

Maka as-Sirri menanggapinya, "Wahai putri Rasulullah, aku jamin bahwa apa yang engkau keluhkan ini akan dihilangkan. Sedangkan mengenai masalah sempitnya rumah ini, maka aku memiliki sebuah rumah yang luas di Darb as-Siba' Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku memberikan itu kepadamu. Aku harap engkau mau menerimanya dan tidak membuatku malu dengan menolaknya." Setelah lama terdiam, Sayyidah Nafisah r.a berkata, 'Ya, saya menerimanya." .

Kemudian ia Mengatakan, Wahai Sirri, apa yang dapat aku perbuat terhadap jumlah orang yang banyak dan rombongan yang terus berdatangan? “Engkau dapat membuat kesepakatan dengan mereka bahwa waktu untuk pengunjung adalah dua hari dalam seminggu. Sedangkan hari-hari lain dapat engkau pergunakan untuk ibadahmu, jadikanlah hari Rabu dan Sabtu untuk mereka," kata as-Sirri lagi. 

Sayyidah Nafisah r.a menerima tawaran itu. Beliau pun berpindah ke rumah yang telah diberikan untuknya dan mengkhususkan waktu untuk kunjungan pada hari Rabu dan Sabtu setiap minggu. 

Sayyidah Nafisah r.a &Imam Syafie

Sayyidah Nafisah r.a dikunjungi oleh banyak fuqaha, tokoh-tokoh tasawuf, dan orang-orang saleh. Di antara mereka adalah Imam Syafi’i r.a, Imam 'Utsman bin Sa’id al-Mishri, Dzun Nun al-Mishri, Al Mishri as-Samarqandi, Imam Abubakar al-Adfawi dan banyak ulama lain. Imam Syafi’i r.a datang ke Mesir pada tahun 198 H, lima tahun setelah kedatangan Sayyidah Nafisah r.a. Imam syafi’i r.a tinggal di Mesir lebih dari empat tahun.  

Ketika Imam Syafi’i r.a datang ke Mesir, ia telah menjalin hubungan dengan Sayyidah Nafisah. Hubungan keduanya diikat oleh keinginan untuk berkhidmat kepada akidah Islam. Imam Syafi’i biasa mengunjungi Sayyidah Nafisah r.a bersama beberapa orang muridnya ketika berangkat menuju halaqah-halaqah pelajarannya di sebuah masjid di Fusthath, yaitu Mesjid 'Amr bin al-'Ash.   

Walaupun Imam Syafi'i memiliki kedudukan yang agung, tetapi jika ia pergi ke tempat Sayyidah Nafisah, ia meminta do’a kepada Nafisah dan mengharap barokahnya. Imam Syafi'i juga mendengarkan hadist darinya. Bila sakit, Imam Syafi’i mengutus muridnya sebagai penggantinya.  

Utusan itu menyampaikan salam Imam Syafi'i dan berkata kepada Sayyidah Nafisah r.a, "Sesungguhnya Imam Syafi'i sedang sakit dan meminta doa kepadamu." Sayyidah Nafisah lalu mengangkat tangannya ke langit dan mendoakan kesembuhan untuknya. Maka ketika utusan itu kembali, Imam Syafi’i telah sembuh.  

Suatu hari, Imam Syafi’i menderita sakit. Seperti biasanya, ia mengirim utusan untuk memintakan doa dari Sayyidah Nafisah r.a baginya. Tetapi kali ini Sayidah Nafisah r.a berkata kepada utusan itu, "Allah membaguskan perjumpaan-Nya dengannya dan memberinya nikmat dapat memandang wajah-Nya yang mulia." Ketika utusan itu kembali dan mengabarkan apa yang dikatakan Sayyidah Nafisah r.a, Imam Syafi’i tahu bahwa saat perjumpaan dengan Tuhannya telah dekat.  

Semasa hayatnya,Imam Syafi’i berwasiat agar Sayyidah Nafisah r.a menyolatkan jenazahnya apabila ia wafat. Ketika Imam Syafi’i wafat pada akhir Rajab tahun 204 H, seramai 120,00 orang telah menyolatkan jenazah Imam Syafi'i r.a.Selepas solat jenazah, Sayyidah Nafisah r.a meminta agar jenazah Imam Syafi'i r.a dihantar ke rumahnya untuk beliau menyolatkan jenazah Imam Syafie bagi melaksanakan wasiatnya. Jenazah Imam Syafi’i dibawa dari rumahnya di kota Fusthath ke rumah Sayyidah Nafisah r.a, dan di situ ia menyolatkannya seorang diri.

Kepergian Seorang Waliyullah

Sayyidah Nafisah r.a telah menggali Kuburnya dengan tangannya sendiri Ketika beliau merasa ajalnya telah dekat, ia mulai menggali kuburnya sendiri. Kubur itu berada di dalam rumahnya. Ia turun ke dalamnya untuk memperbanyak ibadah dan mengingat akhirat. Al-Allamah al-Ajhuri mengatakan, Nafisah mengkhatamkan Al-Qur'an di dalam kubur yang telah digalinya sebanyak 6000 ribu kali dan menghadiahkan pahalanya untuk kaum Muslimin yang telah wafat.  

Ketika sakit, ia menulis surat kepada suaminya, Ishaq al Mu'tamin, yang sedang berada di Madinah dan memintanya datang. Suaminya pun datang bersama kedua anak mereka, al-Qasim dan Ummu Kultsum. Pada pertengahan pertama bulan Ramadan 208 H, sakitnya bertambah parah, sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Orang-orang menyarankannya untuk berbuka demi menjaga kekuatan dan mengatasi sakit yang dideritanya.Beliau pun menjawab, "Sungguh aneh! Selama 30 tahun aku meminta kepada Allah agar Ia mewafatkan aku dalam keadaan berpuas, maka bagaimana mungkin aku berbuka sekarang? Aku berlindung kepada Allah. Hal itu tidak boleh terjadi selamanya".  

Kemudian ia membaca surah al-An'am. Ketika sampai pada ayat, "Untuk mereka itu kampung keselamatan (syurga) di sisi Tuhan mereka. Dia penolong mereka berkat amalan yang mereka perbuat," (al-An'am: 127) Sayyidah Nafisah r.a lalu mengucapkan kalimat syahadat, dan naiklah rohnya keharibaan Tuhannya Yang Maha Tinggi, berjumpa dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.  

Sebelumnya, Saiyyidah Nafisah r.a berwasiat kepada suaminya untuk memindahkan jasadnya yang suci dalam peti ke Madinah untuk dimakamkan di sana bersama keluarganya di Baqi'. Namun, penduduk Mesir menentangnya dan menginginkan agar ia dimakamkan di kubur yang telah digalinya dengan tangannya sendiri.  

Penduduk Mesir mengumpulkan harta yang banyak, lalu menyerahkannya kepada suami Sayyidah Nafisah r.a seraya meminta agar jenazahnya tetap berada di Mesir. Namun suaminya enggan menerima permintaan itu. 

Ketika pagi, mereka mendatanginya lagi. Akhirnya suami Sayyidah Nafisah r.a memenuhi pemintaan mereka untuk memakamkan isetrinya di tempat mereka, namun ia mengembalikan harta mereka. Mereka bertanya kepadanya tentang hal itu. Ia menjawab, "Aku melihat Rasulullah Saw dalam mimpi. Beliau berkata kepadaku, Wahai Ishaq, kembalikan kepada mereka harta mereka dan makamkanlah Sayyidah Nafisah r.a di tempat mereka. 

Allahu a'lam. 

6 comments:

Arrazzi Alhafiz Alattas said...

Kisah menceritakan bahawa Saidatina Nafisah mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 6000 kali sebulan adalah satu periwayatan yang sangat lemah dari sudut riwayah dan dirayah.

Jika mengambil kira jumlah waktu untuk seorang yang normal khatam al-Quran dan mengambil masa bacaan qari Sheikh Masyari sebagai rujukan ia adalah mustahil.

Beliau mengambil masa 29 jam 40 minit dan 18 saat untuk khatam Quran dari Surah al-Fatihah sehinggalah ke Surah an-Naas tanpa henti.

Dalam sebulan, kita mempunyai 29 hari iaitu bersamaan dengan 696 jam sahaja. Mengikut perkiraan, jumlah maksimum dalam sebulan yang kita sempat khatam Quran hanyalah sebanyak 23 kali sahaja tanpa makan, tidur dan membuang hadas. Untuk seorang manusia khatam Quran sebanyak 6 000 kali dalam sebulan adalah mustahil walaupun kita menggelarkan tokoh itu sebagai wali Allah.

Wallahu a'lam

alfaqir said...

itulah keberkatan umur..

wildan haroun said...

Yang lemah tu syeikh masyari

Khairul anwar said...

Tidaklah mustahil bagi mereka yg sentiasa dibawah lindungan rahmat Allah swt... Malahan pula Saidatina Nafisah ialah ahlul bait yg dimuliakan Allah swt

Khairul anwar said...

Tidaklah mustahil bagi mereka yg sentiasa dibawah lindungan rahmat Allah swt... Malahan pula Saidatina Nafisah ialah ahlul bait yg dimuliakan Allah swt

Khairul anwar said...

Tidaklah mustahil bagi mereka yg sentiasa dibawah lindungan rahmat Allah swt... Malahan pula Saidatina Nafisah ialah ahlul bait yg dimuliakan Allah swt